Masalah Dibalik Ketimpangan Pendapatan

us-income-inequality-record-breaking.si_-470x260Tahun 2008, terjadi krisis yang merusak tatanan ekonomi dunia. Negara dengan ekonomi besar dunia runtuh. Amerika Serikat dan Uni Eropa yang telah menjadi pemain ekonomi terbesar dunia tak berkutik. Pada saat yang sama muncul negara-negara yang sebelum tidak diperhatikan selama ini muncul di permukaan dunia sebagai negara yang bertahan dari krisis yang merusak tata ekonomi dunia saat itu. Satu di antara negara yang berhasi lolos dari krisis tersebut adalah Indonesia.

Indonesia, negara yang diapit dua benua besar, Asia dan Australia, merupakan negara terbesar dari sisi geografis dan ekonominya di Asia Tenggara. Negara dengan penduduk mencapai lebih dari 230 juta ini menjadi perhatian dunia setelah berhasil lolos dari krisis ekonomi 2008. Pertumbuhan ekonomi yang diciptakan Indonesia sebelum dan sesudah krisis ekonomi 2008 selalu berada di zona hijau dan berada di atas 4%. Dunia menganggap ekonomi Indonesia akan berkembang sangat signifikan dengan modal pertumbuhan ekonomi dan stabiltas yang terjaga selama ini. Bahkan penelitian dari McKinsey Global Institute September 2012 menyatakan Indonesia akan menjadi negara dengan ekonomi terbesar ketujuh dunia (dengan syarat).

Pemerintah dan publik Indonesia terpana dengan pernyataan tersebut dan lupa bahwa sebenarnya kita sedang menghadapi masalah ekonomi yang semakin memuncak. Badan Pusat Statistik mengeluarkan data indeks Gini Indonesia yang mengejutkan bagi publik Indonesia. Dari Tahun 2009 Indeks gini Indonesia mengalami peningkatan yang positif. Pada tahun 2009 Indeks gini Indonesia sebesar 0,39 dan naik pada tahun 2013 menjadi 0,413.

kuadran

Kuadran Ketimpangan Pendapatan

Bila kita buatkan empat kuadran dengan membandingkan indeks gini dan log GDP per kapita negara-negara di dunia. Indonesia di tahun 1991, masuk ke dalam kuadran Low Income-Low Inequality dan mengalami kemajuan yang baik pada tahun 2001 dengan pergeseran posisi menuju High Income-Low Inequality. Namun sepuluh tahun kemudian, Indonesia justru mengalami kemunduran dengan masuk ke dalam kuadran Low Income-High Inequality dan semakin masuk ke dalam kuadran tersebut.

Bila kita buat perbandingan dengan negara lain, pertumbuhan positif indeks Gini di Indonesia merupakan salah satu tertinggi di dunia. Perubahan indeks Gini Indonesia dari kurun waktu 2000-2001 hingga 2009-2011 sebesar 23,9%. Perubahan ini lebih besar dari pada perubahan indeks Gini di negara Macedonia, Ethiopia, Afrika Selatan, Swaziland, dan Rusia.

Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi negara Indonesia, dimana negara tetangga kita seperti Thailand dan Filipina bisa mengatasi permasalahan ketimpangan ini dengan mengalami pertumbuhan yang negatif atas indeks Gininya pada kurun waktu yang sama. Indonesia, negara dengan perekonomian terbesar di Asia Tenggara justru mengalami pertumbuhan ketimpangan yang sangat signifikan yaitu sebesar 23,9%.

Sebenarnya seberapa masalahkah sebuah ketimpangan pendapatan pada suatu negara? Apakah hanya ketidakadilan ekonomi yang muncul di dalam masyarakat? Atau ada yang lain?

Dalam acara TED’s Talk, Richard Wilkinson, Profesor Emeritus of Social Epidemiology dari University Nottingham Inggris memberikan sebuah fakta mengenai bahayanya sebuah ketimpangan pendapatan di suatu negara.

Dalam persentasinya beliau menjelaskan mengenai paradox yang tercipta dari pertumbuhan GDP per kapita. Suatu pertumbuhan GDP per kapita negara tidak menjamin dapat menyelesaikan permasalahan sosial dan kesehatan pada negara tersebut. Tidak ada hubungan yang signifikan antara keduanya. Permasalahan sosial dan kesehatan tersebut justru memiliki hubungan yang positif dengan kesetaraan pendapatan.

Untuk membuktikan hubungan tersebut, Richard menghubungkan antara masalah kesehatan dan sosial dengan ketimpangan pendapatan dari negara-negara yang ada di dunia. Masalah kesehatan dan sosial yang ia masukan antara lain ekspektasi hidup, kemampuan membaca dan berhitung, kematian bayi, bunuh diri, hukuman penjara, jumlah kasus remaja melahirkan, kepercayaan terhadap orang lain, obesitas, penyakit kejiwaan termasuk kecanduan narkoba dan alkohol, dan mobilitas sosial. Dari hasil pembuktiannya menghasilkan beberapa kesimpulan.

Kepercayaan seseorang dengan orang lain di negara yang memiliki ketimpangan yang tinggi akan lebih rendah dibandingkan dengan negara yang lebih merata. Hubungan antara kepercayaan terhadap orang lain dengan ketimpangan berbanding terbalik, alias semakin besar ketimpangan maka semakin kecil kepercayaan seseorang terhadap orang lain.

Dari sisi masalah kesehatan seperti kematian bayi, obesitas dan penyakit kejiwaan negara dengan ketimpangan pendapatan yang tinggi akan mengalami kasus yang lebih banyak dibandingkan dengan negara yang lebih merata. Bila dihubungkan ketiga kasus tersebut dengan ketimpangan pendapatan, hubungan yang tercipta adalah hubungan yang positif atau semakin tinggi ketimpangannya semakin tinggi pula kasus yang muncul di negara tersebut.

Bagaimana dengan masalah yang lain? Ekspektasi hidup, kemampuan membaca dan berhitung, mobilitas sosial di negara yang lebih timpang akan lebih rendah nilainya. Ekspektasi hidup yang lebih rendah dibanding negara yang merata, kemampuan membaca dan berhitung tidak menyebar di masyarakat dan mobiltas sosial di masyarakat sulit terjadi.

Begitu pula dengan kasus lainnya, bunuh diri, jumlah hukuman penjara, jumlah kasus remaja yang melahirkan akan lebih banyak ditemukan di negara-negara dengan ketimpangan yang tinggi.

Bagaimana seharusnya peran negara untuk menyelesaikan masalah ketimpangan ini?

Dalam diskusi publik Studium Veritatis “Ketimpangan di Indonesia: Gambaran dan Tantangan ke Depan” Direktur CEDS Unpad Dr. Arief Anshory Yusuf memberikan solusi bagaimana peran negara dalam menyelesaikan masalah ketimpangan pendapatan.

Hal yang utama dalam usaha pembangunan suatu masyarakat atau dalam konteks luasnya negara adalah human capital yang dimiliknya. Usaha untuk menciptakan human capital yang handal dan matang dapat melalui ke dalam dua sektor, pendidikan dan kesehatan.

Negara harus bisa menjamin kepada seluruh manusia yang ada di dalamnya mendapatkan pelayanan pendidikan dan kesehatan yang sama dan layak atau dengan kata lain pemerataan kesempatan bagi seluruh masyarakat suatu negara. Dengan tersedianya pelayanan pendidikan dan kesehatan yang sama dan layak bagi masyarakat suatu negara, maka akan terbangun manusia dengan modal insani yang baik. Dengan terdapatnya modal insani yang baik pula maka akan muncul inovasi-inovasi yang baru. Semakin banyak inovasi maka semakin tinggi pula produktivitas atau daya saing negara. Dan pada akhirnya tercipta pertumbuhan ekonomi yang berkualitas.

Sudah diakui di banyak negara, pembangunan negara yang baik tidak bisa dipisahkan dengan kemampuan berinovasi yang dimiliki oleh masyarakat di negara itu sendiri. Negara perlu hadir untuk menciptakan suatu lingkungan pendukung yang baik untuk membangun kemampuan inovasi masyarakatnya.

Bagaimana dengan Indonesia? dengan indeks Gini yang sudah mencapai 0,41 (2013) Indonesia dikhawatirkan mengalami gejala ekonomi yang sudah dijelaskan oleh ekonom Richards Wilkinson. Perlu ada tindakan startegis dalam menyelesaikan permasalahan ini. Perlu adanya sebuah kehadiran negara dalam memberikan pemerataan kesempatan untuk mendapatkan peluang untuk melakukan mobiltas sosial.

Bila masalah ini terus berlanjut akan menyulitkan pembangunan ekonomi Indonesia dan mengaburkan semua prediksi yang mengatakan ekonomi Indonesia akan sejajar dengan negara ekonomi besar dunia (lagi).

Dimuat dalam:

http://studiumveritatis.org/archives/163

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s