Antara Peluang dan Bencana

kereta

Apakah bonus demografi itu sebuah peluang atau bencana? Bagaimana dengan bonus demografi yang akan Indonesia hadapi pada tahun-tahun mendatang? Apakah bencana atau peluang? Tidak ada jawaban yang tepat. Apakah ini peluang atau bencana. Jawaban ini tergantung dengan perspektif kita dalam melihat suatu peristiwa. Belum berakhirnya bonus demografi negara Indonesia membuat kita hanya bisa berspekulasi dan menduga-duga apakah bonus demografi yang dialami Indonesia saat ini bencana atau sebuah peluang. Demi mencari jawaban dari pertanyaan utama kita, kita perlu mengetahui terlebih dahulu bagaimana kondisi Indonesia saat ini, agar kita dapat menilai sedikit lebih objektif.

Berawal dari sebuah laporan penelitian yang dikeluarkan oleh McKinsey Global Institute pada bulan September 2012 yang menjelaskan potensi perekonomian Indonesia untuk menjadi negara dengan ekonomi maju pada tahun 2030. Dalam laporan tersebut, McKinsey mengatakan bahwa perekonomian Indonesia akan berada di posisi ketujuh dunia dengan 135 juta orang kelas menengah, 71% penduduk tinggal di daerah perkotaan dan mampu berkontribusi terhadap GDP negara sebesar 86%. Selain itu juga dibutuhkan sebanyak 113 juta pekerja terlatih dengan potensi aktifitas pasar sebesar 1,8 trilliun Dollar AS (Oberman, Dobbs, Budiman, Thompson, & Rosee, 2012).

Munculnya laporan ini bagaikan memberikan angin segar kepada pemerintah Indonesia pada saat itu. Sebuah angin segar optimisme akan baiknya perkembangan ekonomi Indonesia di masa yang akan datang. Namun angin segar itu seakan membutakan pemerintah dan masyarakat Indonesia bahwa sebenarnya ada syarat penting agar angin segar tersebut dapat menjadi kenyataan dan membawa harapan bagi masyarakat Indonesia.

Bonus Demografi

Istilah bonus demografi atau dividen demografi atau windows of opportunity muncul tahun 1990-an oleh Bank Dunia. Istilah ini menjelaskan mengenai tambahan penduduk usia produktif pada suatu negara, dimana tambahan penduduk usia produktif tersebut dapat menjadi sebuah potensi perkembangan ekonomi suatu negara. Bagaimana hal ini bisa terjadi? Dengan banyaknya penduduk usia produktif maka semakin banyak peluang juga peningkatan savings dan investasi yang dapat meningkatkan perekonomian suatu negara (Hakkert, 2007).

Tambahan ini haruslah penduduk yang berada pada usia produktif, bukan yang masih berada di bawah usia produktif atau bisa dimasukkan ke dalam kategori anak-anak. Kenapa demikian? Anak-anak belumlah bisa dikategorikan sebagai bagian dari produsen melainkan adalah konsumen karena belum adanya kemampuan keterampilan yang mereka miliki. Berdasarkan UN Population Division, suatu negara yang sudah berada di periode bonus demografi atau windows of opportunity adalah negara dimana proporsi penduduk anak-anak dan usia di bawah 15 tahun berada di bawah 30% dan penduduk usia lanjut atau usia di atas 65 tahun di bawah dari 15%. Bonus demografi bukanlah anugerah yang hanya terjadi di Indonesia melainkan banyak di negara-negara di dunia. Banyak negara yang berhasil mengoptimalkan bonus demografi yang mereka dapatkan, ada pula negara yang gagal mengoptimalkan bonus yang mereka terima. Negara dapat dikategorikan berhasil mengoptimalkan bonus apabila transisi demografi yang mereka lakukan dapat berjalan dengan cepat dan baik. Semakin cepat transisi berjalan maka semakin cepat pula negara tersebut mencapai windows of opportunity. Transisi yang cepat tersebut dapat berlangsung selama dua atau tiga dekade (Hakkert, 2007).

East Asian Miracles

Terjadi pada kisaran tahun 1980-an, dunia dikagetkan dengan munculnya negara-negara Asia Timur yang mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Peristiwa tersebut dikenang dengan istilah East Asian miracle. Negara Asia Timur yang mendapatkan julukan keajaiban tersebut adalah Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Singapura, Taiwan dan Thailand. Kemunculan negara-negara tersebut sebagai salah satu pelaku ekonomi dunia yang diperhitungkan membuat seluruh dunia bertanya, bagaimana negara tersebut dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang tinggi?

Joseph E. Stiglitz dalam paper yang berjudul “Some Lesson from the East Asian Miracle” menjelaskan bagaimana negara-negara dapat menciptakan pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. Sesungguhnya pertumbuhan ekonomi yang dialami oleh negara Asia Timur tersebut diakibatkan oleh kombinasi beberapa faktor, terutama tingginya nilai savings rate yang berinteraksi dengan tingginya human capital di lingkungan ekonomi stabil namun dengan intervensi pemerintah yang mengantarkan terjadinya transfer teknologi (Stiglitz, 1996).

Dari paper tersebut, Stiglitz (1996) menyimpulkan enam kondisi yang membuat East Asian miracle terjadi. Kondisi pertama, pemerintah dapat membuat kehidupan masyarakatnya berjalan dengan lebih baik. Kedua, kebijakan pemerintah yang mudah beradaptasi dengan kondisi global. Ketiga, adanya peran pemerintah dalam pasar guna menciptakan perekonomian yang dapat memberikan social return yang tinggi. Keempat, meningkatkan dan mengembangkan akumulasi capital fisik dan SDM. Kelima, pengubahan alokasi sumber daya yang dapat menstimulisasi perekonomian. Dan Keenam, kebijakan yang dikeluarkan pemerintah haruslah mendukung iklim investasi.

Dari konklusi Stiglitz (1996) atas East Asian miracle menjelaskan bahwa pentingnya peran pemerintah dalam menciptakan iklim ekonomi yang ramah. Selain itu peran pemerintah ini juga penting dalam mengoptimalkan potensi negara yang ada.

Lalu apa hubungannya antara East Asian miracle dengan bonus demografi? Karena terdapat negara dalam East Asian miracle pada saat itu menerima bonus demografi yang sangat besar. Negara tersebut adalah Jepang dan Korea Selatan. Dengan kebijakan pemerintah yang efektif dan produktif, kedua negara tersebut dapat membuat bonus demografi yang ada menjadi batu loncatan menuju negara dengan perekonomian besar di dunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan laporan BPS (2015) mencatat Indonesia pada tahun 2014 memiliki penduduk sebanyak 252,2 juta orang dengan GDP sebesar 10.52,7 triliun rupiah. Dari 252,2 juta penduduk yang ada, jumlah angkatan kerja sebanyak 121,9 juta orang atau 48.33% dari seluruh penduduk. Jumlah yang bekerja ada sebanyak 114,6 juta orang atau 94,06% dari seluruh angkatan kerja. Dari angka ini, dimana mulai mendominasinya kelas usia produktif terhadap seluruh penduduk, menunukkan bahwa Indonesia sudah memasuki periode bonus demografi yang sudah diprediksikan sebelumnya.

Bagaimana dengan human capital dari penduduk Indonesia? Untuk mengetahui bagaimana kualitas dari human capital kita bisa melihat dari indeks pembangunan manusia. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) adalah ukuran rata-rata keberhasilan dalam usaha pembangunan manusia yaitu: umur panjang dan hidup sehat, mempunyai pengetahuan dan memiliki standar hidup yang layak (BPS, 2015). IPM Indonesia pada kurun waktu 2010-2013 mengalami peningkatan namun tidak signifikan. Pada tahun 2013, IPM Indonesia sebesar 0,684 dan berada di peringkat 108 dunia (BPS, 2015).

Pertumbuhan GDP yang stagnan pada kisaran 5-6 persen dan semakin melambat akhir-akhir ini membuat pembangunan ekonomi tersendat. Selain itu inflasi Indonesia yang pada kurun waktu 2009-2014 kurang stabil dengan tingkat inflasi pada tahun 2014 sebesar 8,4%. Namun ketika kita melihat dari realisasi investasi, dari dalam negeri maupun asing keduanya mengalami peningkatan yang cukup signifikan terutama pada investasi dalam negeri. Pada tahun 2014, realisasi investasi dalam negeri sebesar 156,1 triliun rupiah dan realisasi investasi asing sebesar 28,5 miliar US dollar. Dari sisi daya saing, Indonesia berada pada peringkat 34 dunia, berada di atas posisi Brazil dan India tetapi di bawah Malaysia dan Singapura (BPS, 2015).

So what can we done?

Ada pepatah yang berkata “banyak jalan menuju Roma” sama halnya dengan Indonesia dan bonus demografinya, banyak jalan yang harus ditempuh menuju perekonomian yang maju. Sesuai dengan yang telah diutarakan sebelumnya, untuk mengoptimalkan bonus demografi yang ada perlu adanya intervensi pemerintah dalam membentuk iklim perekonomian yang baik.

Oberman et al. (2012) dalam laporan penelitian McKinsey, mengatakan setidaknya terdapat empat sektor prioritas yang menjadi fokus pemerintah Indonesia dalam mengambil kebijakan. Selain harus menyelesaikan permasalahan akut negara seperti birokrasi dan korupsi yang berlebihan, akses masyarakat atas modal dan permasalahan infrastruktur, pemerintah juga harus mengutamakan kebijakan pada empat sektor tersebut yang terdiri dari sektor konsumsi, pertanian dan perikanan, sumber daya alam, dan pekerja terampil.

Transformasi sektor konsumsi. Mengembangkan konsumsi masyarakat akan memperluas pasar dan meningkatnya produktifitas, terutama pada sektor keuangan dan ritel. Akses masyarakat yang mudah kepada sektor-sektor konsumsi, terutama kedua sektor tersebut, akan membuka potensi ekonomi yang sangat besar. Hal ini juga didukung dengan berkembangnya konsumsi masyarakat Indonesia. Namun untuk menciptakan potensi ekonomi tersebut, pemerintah harus bisa membuka akses tersebut ke seluruh pelosok Indonesia agar dapat merangkul potensi-potensi yang ada di daerah. Pemerintah juga harus mengevaluasi regulasi-regulasi yang selama ini membatasi sektor keuangan dan proteksi pada sektor ritel. Perlunya evaluasi tersebut karena untuk meningkatkan efisiensi pada pasar dan iklim kompetisi yang fair.

Tingkatkan produktifitas sektor pertanian dan kelautan. Datangnya bonus demografi pada Indonesia menandakan juga datangnya tambahan penduduk yang perlu diberi makan setiap harinya. Berkembangnya jumlah penduduk tentu akan meningkatkan permintaan atas makanan untuk sehari-hari. Pemerintah harus bisa membuat kebijakan yang dapat meningkatkan produktifitas pertanian dan kelautan di kala berkurangnya lahan pertanian dan urbanisasi yang tiap tahun selalu meningkat.

Membangun resource-smart economy. Selain meningkatnya permintaan atas makanan yang merupakan akibat berkembangnya jumlah penduduk, supply energi juga dibutuhkan agar kehidupan sehari-hari masyarakat dapat berjalan dengan baik. Tingginya permintaan akan energi, pemerintah harus bisa maksimalkan supply energi dari sektor energi terbarukan, seperti bio-fuel, geothermal, dan biomass.

Investasi pada pengembangan keterampilan. Perekonomian Indonesia yang berkembang membutuhkan tenaga-tenaga terampil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Penelitian dari Bank Dunia mengatakan bahwa rintangan terbesar Indonesia dalam pembangunan pada sektor manufaktur. Bank Dunia menemukan 84% pekerja pada sektor manufaktur merasa kesulitan dalam mengisi posisi pada manajemen perusahaan dan 69% dilaporkan kesulitan dalam mencari sumber tenaga kerja. Untuk menutup gap antara tenaga terampil dengan yang tidak, Oberman et al. (2012) memberikan tiga saran. Pertama, meningkatkan standar pengajaran secara signifikan. Kedua, kembangkan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan permintaan pasar dan ketiga menciptakan suasana pendidikan yang baru dan fleksibel.

Pemerintah juga dituntut untuk bisa menciptakan pertumbuhan ekonomi optimal agar tercapainya potensi windows opportunity dari bonus demografi. Oberman et al. (2012) mengatakan dibutuhkan pertumbuhan ekonomi sebesar 7% untuk bisa mengoptimalkan potensi ekonomi dari bonus demografi.

Untuk usaha tercapainya pertumbuhan ekonomi sebesar 7% ke atas per tahun, kita bisa melihat buku yang berjudul “The Sum is Greater than The Parts” yang merupakan hasil penelitian ASH Center, Harvard Kennedy School. Dalam buku tersebut menjelaskan bahwa masih belum terintegrasinya pasar di Indonesia. Masih terpecah-pecahnya membuat potensi ekonomi belum bisa ditingkatkan dan bahkan menghambat usaha pengoptimalannya. Guna meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerintah bisa meningkatkan kualitas dari infrastruktur keras (pelabuhan, kereta api, bandara), infrastruktur lunak (pemerintah itu sendiri dan tata kelolanya) dan infrastruktur basah (sumber daya manusianya) (Harvard Kennedy School, 2014).

Peluang atau bencana?

Setiap ada peluang pasti ada bencana yang menghantui dan setiap ada bencana pasti ada peluang yang tersimpan. Dalam menyikapi bonus demografi yang sudah berjalan di Indonesia saat ini, pemerintah dan kita juga perlu mengantisipasi dan mempersiapkan potensi ekonomi ini. Perlu adanya kerja sama antara masyarakat dan pemerintah yang baik dan komprehensif. Komitmen pemerintah yang kuat menjadi syarat awal dari usaha ini.

Lalu apakah ini peluang atau bencana? Lebih cocoknya bonus demografi kita anggap sebagai tantangan dan tugas semua orang, terutama pemerintah, untuk meningkatkan perekonomian Indonesia menjadi maju.

 

 

BPS. (2015). Statistik Indonesia 2015.

Hakkert, R. (2007). The Demographic Bonus and Population in Active Ages. Brasilia.

Harvard Kennedy School. (2014). The Sum is Greater Than The Parts, Melipatgandakan Kemakmuran di Indonesia Melalui Integrasi Lokal dan Global. Gramedia Pustaka Utama.

Oberman, R., Dobbs, R., Budiman, A., Thompson, F., & Rosee, M. (2012). The Archipelago Economy: Unleashing Indonesia’s Potential.

Stiglitz, J. E. (1996). Some lessons from the East Asian miracle. The World Bank Reasearch Observer, 11(2), 151.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s