Hubungan Internasional Indonesia: Goyah di Antara Para Raksasa

278523_presiden-jokowi-di-ktt-apec-2014_663_382

Sebagai negara yang terbuka dan aktif dalam pergaulan diplomasi antarnegara, Indonesia seharusnya memiliki peran besar dalam perkembangan politik dunia. Sebagai negara terbesar dalam ASEAN, Indonesia menjadi sangat strategis bagi negara-negara di dunia. Semakin terbukanya perekonomian dunia dan semakin cairnya politik dunia, membuat segala sesuatu menjadi sangat mungkin terjadi saat ini. Indonesia selama ini sudah menjadi salah satu pemain politik global dengan bergabung ke dalam G20, WTO dan organisasi dunia lainnya.

Dalam satu tahun pemerintahan Jokowi, hubungan negara-negara dengan Indonesia diawali dengan sentiment positif dengan pemberitaan Presiden Jokowi yang selalu positif di mata dunia. Namun hal tersebut tidak bertahan lama. Mulai munculnya kebijakan-kebijakan yang membuat hubungan antarnegara di Indonesia sedikit tergoyahkan. Orientasi hubungan internasional Indonesia yang saat ini lebih berfokus kepada pembukaan kesempatan investasi domestik membuat Indonesia tidak bisa berperan lebih dalam pergaulan dunia.

Para Raksasa

Pergulatan politik dunia saat ini sangat kompleks dan tidak bisa diprediksi. Munculnya negara-negara seperti Tiongkok dan Rusia sebagai pesaing Amerika Serikat (AS) yang selama ini menjadi negara adidaya dunia membuat hubungan antarnegara menjadi sulit terbaca. Naik panggungnya kedua negara tersebut berawal dari perekonomian mereka yang besar, militer yang kuat dan kecerdikan dalam hubungan antar bangsa-bangsa dunia. Banyak persoalan yang muncul dari pergesekan antar raksasa tersebut yang berpengaruh terhadap negara berkembang di dunia, salah satunya Indonesia.

Krisis Laut Tiongkok Selatan merupakan pergesekan antara negara-negara Asia Tenggara dengan Tiongkok dalam hal perbatasan laut. Persoalan ini sulit terselesaikan akibat banyaknya negara yang ikut dalam hal ini, seperti Malaysia, Brunei, Vietnam, Filipina, Thailand, Tiongkok, Jepang hingga Amerika Serikat (AS). Hal ini semakin diperparah dengan pengaruh Tiongkok dan AS pada negara-negara sekutu mereka di sekitar Laut Tiongkok Selatan. AS yang berpihak kepada Filipina, Thailand dan Jepang berlawanan dengan Veitnam dan Tiongkok yang satu badan. Persoalan ini pun belum mencapai pada titik temu yang diinginkan semua pihak.

Bagaimana Indonesia?

Indonesia, negara dengan sejarah pergaulan dunia yang banyak sangat disayangkan tidak bermain banyak pada dewasa ini. Kurang pahamnya Jokowi dalam hubungan internasional Indonesia terlihat dalam satu tahun ini. Banyak kebijakan yang diambil tanpa perhitungan diplomasi antarnegara yang baik. Kurang berperannya juga Indonesia dalam isu-isu global memperlihatkan ketidakmampuan Jokowi dalam bersikap.

Saat ini dunia menganggap politik luar negeri yang diambil oleh Jokowi lebih bersifat fokus ke dalam. Dalam artian hanya fokus ke dalam negeri. Hal ini terlihat dari kebijakan peledakan nelayan asing dan eksekusi mati narapidana narkoba luar negeri. Kebijakan ini baik namun alangkah baiknya bila pemerintah juga melakukan komunikasi dengan pihak asing terkait dalam pengambilan keputusan ini. Sempat renggangnya hubungan dengan Brazil dan Australia menjadi buah pahit keputusan ini.

Selain itu absennya Presiden Joko Widodo dalam agenda dunia menjadi pertanyaan sendiri mengenai kemampuan dia dalam politik luar negeri. Ketidakhadiran presiden dalam Sidang Umum PBB kemarin cukup disayangkan terjadi. Secara umum sidang umum tersebut menjadi ajang eksistensi negara di pergaulan dunia. Diwakilkannya Indonesia oleh wakil presiden secara tidak langsung merendahkan agenda besar tersebut. Padahal agenda yang dibahas sangat penting yaitu mengenai program pembangunan masyarakat dunia.

Dalam keputusan proyek kereta cepat menjadi salah satu poin pembuktian presiden dalam politik luar negeri. Proyek ini bukanlah proyek kereta biasa karena ikut sertanya Tiongkok dan Jepang dalam pengerjaannya. Terpilihnya Tiongkok menjadi keanehan sendiri. Kenapa? Padahal proyek (yang tidak efisien) ini diinisiasi dan dimatangkan oleh pihak Jepang. Keputusan ini membuat kekecewaan besar dari pihak Jepang.

Terakhir, wacana ikut sertanya Indonesia ke dalam Trans-Pacific Partnership. Wacana yang dicetuskan presiden dalam lawatan ke AS ini menjadi gunjingan di dalam negeri. Dasar keputusan ini pun lemah, yaitu ingin menyeimbangkan Indonesia dari Tiongkok dan AS. Keputusan terkesan tanpa perhitungan. TPP yang digulirkan AS masih menjadi perdebatan tersendiri bagi negara lain, bahkan negara yang sudah bergabung pun juga ragu dengan kerja sama ini. Indonesia terlihat menjadi negara yang naif bila keputusan ini tetap digulirkan.

Presiden masih perlu belajar banyak mengenai politik luar negeri. Keputusan ini bukan keputusan yang dapat diputuskan dalam waktu singkat. Perlu pertimbangan banyak untuk mengambil sebuah keputusan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s