Menjawab Logika “Subsidi BBM untuk Rakyat”

Tahun 2015 telah menjadi awal kehidupan baru bagi masyarakat (luas) Indonesia. Di tahun ini Indonesia memasuki rezim penghapusan sistem subsidi BBM untuk jenis premium. Dan BBM untuk jenis solar tetap akan disubsidi dengan mekanisme subsidi tetap sebesar Rp1.000,- dari harga dunia.

Setelah kebijakan ini digulir, pihak kontra mulai membuat tuntutan untuk mengembalikan subsidi tersebut dalam kebijakan peanglokasian BBM. Alasan dari tuntutan ini adalah sejak kebijakan ini dijalankan terjadi ketidakstablian harga kebutuhan hidup dan sangat memberatkan masyarakat Indonesia. Jadi apakah kebijakan ini salah?

Subsidi BBM dan APBN

3Dalam sepuluh tahun terakhir subsidi energi, termasuk subsidi BBM, memiliki porsi yang sangat besar dibanding pos anggaran yang lain. Pada periode 2004-2014, subsidi energi rata-rata memiliki porsi sebesar 21% dan mengalami porsi terbesar pada tahun 2008 yang mencapai 28%. Di dalam subsidi energi, alokasi subsidi BBM adalah yang terbesar dengan mencaplok 80% dari seluruh subsidi energi.

Sebenarnya pemerintah sah-sah saja untuk membengkakan subsidi BBM tetapi sangatlah tidak etis. Tidaklah etis mengalokasikan subsidi BBM, yang bersifat konsumtif, lebih besar dibandingkan anggaran pembangunan. Sebagai contoh, anggaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015 hanya sebesar 25,62% bila dibandingkan dengan subsidi BBM 2015 yang mencapai 344,7 Triliyun Rupiah. Bila kondisi ini dipertahankan, suatu saat pemerintah tidak akan memiliki dana yang cukup untuk mengembangkan perekonomian Indonesia yang lebih optimal. Anggaran negara akan selalu terkekang untuk membayari BBM seluruh kendaraan di Indonesia.

2

Subsidi BBM dan Ketimpangan

Akhir-akhir ini Indonesia dihadapkan dengan permasalahan sosial baru yang sebenarnya sudah terlihat dari beberapa tahun ke belakang, ketimpangan pendapatan.

Di tahun 2005, Gini ratio Indonesia tercatat sebesar 0,363 dan mengalami penurunan hingga 0,35 pada tahun 2008. Penurunan tersebut menunjukkan sinyal positif dari perekonomian bahwa pendapatan orang Indonesia sudah semakin setara. Tetapi pada tahun 2009, Gini ratio Indonesia melonjak hingga 0,37 dan semakin naik hingga 0,413 di tahun 2013. Hal ini menunjukkan terjadi peningkatan kesenjangan pendapatan golongan terkaya Indonesia dengan golong termiskin Indonesia (BPS).

Salah satu penyebab utama meningkatnya Gini ratio tersebut adalah subsidi BBM. Berdasarkan analisis dari (Yusuf, 2013) hubungan antara alokasi subsidi BBM dan kesenjangan pendapatan adalah positif. Bahkan setiap alokasi subsidi BBM naik sebesar 1%, maka besaran pendapatan golongan 20% terkaya di Indonesia akan meningkat sebesar 0,31%. Hal tersebut menunjukkan bahwa subsidi BBM selama ini lebih menguntungkan kepada golongan terkaya dari pada golongan termiskin di Indonesia.

Hasil yang serupa juga datang dari analisis Wibisono (2014) yang menyimpulkan bahwa subsidi BBM justru memperburuk distribusi pendapatan di Indonesia. Hal ini disebabkan karena subsidi tersebut lebih banyak dinikmati oleh golongan terkaya daripada golongan termiskin. Dan apabila harga BBM naik, ketimpangan akan berkurang karena golongan terkaya mengalami penurunan kesejahteraan lebih besar daripada golongan termiskin di Indonesia.

Harga BBM dan Hotelling’s rule

Hotelling’s rule adalah teori yang menjelaskan pengalokasian sumber daya alam (SDA) nonrenewable yang optimal. Aturan ini memperhatikan sisi permintaan, cadangan SDA nonrenewable yang ada, harga dan waktu.

1Grafik di samping menjelaskan hubungan antara permintaan, cadangan SDA nonrenewable, harga dan waktu. Kuadran nomor 1 (satu) menjelaskan tentang permintaan atas SDA tersebut. Kuadran nomor 2 (dua) menjelaskan cadangan SDA nonrenewable yang ada. Dan kuadran 3 (tiga) menjelaskan mengenai harga dari SDA nonrenewable tersebut.

Harga dari suatu komoditas SDA nonrenewable akan selalu naik seiring berjalannya waktu, ceteris paribus. Seperti halnya dalam teori ekonomi, suatu harga ditentukan oleh supply-demand komoditas.

Dari grafik tersebut juga menjelaskan bahwa cadangan SDA nonrenewable akan habis Supply akan selalu menipis seiring berjalannya waktu. Berkurangnya SDA nonrenewable tidak diimbangi dengan demand yang selalu naik sehingga pada akhirnya terjadi kenaikan harga atas komoditas SDA nonrenewable tersebut.

Sama halnya dengan BBM yang merupakan SDA nonrenewable yang akan habis suatu saat ini. Terjadinya supply yang berkurang tidak diimbangi dengan demand yang terus bertambah. Sudah sewajarnya apabila harga komoditas BBM selalu naik sejalannya waktu.

Kesimpulan dan Kebijakan Berkelanjutan

Kebijakan subsidi BBM sepuluh tahun terakhir ini lebih memberikan efek negatifnya dibandingkan dengan efek positifnya. Terbebaninya anggaran pemerintah membuat pemerintah tidak dapat bertindak banyak dalam membangun perekonomian. Ketimpangan yang terjadi selama ini juga menambah masalah yang harus diselesaikan dan diperburuh oleh adanya subsidi BBM ini.

Tetapi tidak bisa ditutupi bahwa kebijakan penghapusan subsidi BBM ini akan memberikan efek yang tidak kecil bagi masyarakat (luas) Indonesia. Banyak dampak yang muncul dari kebijkana baru ini, seperti kenaikan harga-harga kebutuhan hidup dan biaya transportasi. Kebijakan ini bukanlah akhir dari permasalahan ekonomi di Indonesia, melainkan sebuah awal dari kebijakan-kebijakan ekonomi yang berkelanjutan.

Seperti yang dijelaskan dalam analisis Wibisono (2014) mengatakan bahwa kenaikan harga BBM akan diiringi dengan kenaikan harga-harga barang lain. Perlu adanya kebijakan cash transfer yang diberikan pemerintah untuk golongan masyarakat termiskin. Dengan kebijakan cash transfer ini akan menjaga daya beli golongan masyarkaat termiskin dari kenaikan harga-harga barang lain akibat kenaikan harga BBM dalam waktu tertentu. Kebijakan ini juga perlu dilakukan dengan teknis targeted subsidy, seperti beasiswa kepada siswa kurang mampu.

Lima tahun terakhir ini, jumlah kendaraan di Indonesia terus meningkat dan jumlah terbanyak diduduki oleh kendaraan jenis motor dan mobil. Kendaraan jenis motor dan mobil menguasai 92,41% dari seluruh kendaraan yang ada (Badan Pusat Statistik, 2014). Perlu adanya penurunan jumlah penggunaan kendaraan bermotor untuk menghindari peningkatan peluang kemacetan parah di kota-kota besar di Indonesia dan membludaknya konsumsi BBM Indonesia.

Analisis ekonomi miko Ikhsan (2014) menyatakan bahwa kebijakan yang dapat menurunkan penggunaan kendaraan adalah kebijakan yang mempengaruhi biaya variabel dari pengguna kendaraan, salah satunya kenaikan harga BBM. Selain itu juga pemerintah perlu mengadakan congestion tax yang diambil bersamaan dengan harga BBM. Kebijakan congestion tax ini dapat dilakukan dengan terbatas, seperti contoh electronic road pricing.

Kebijakan intensifikasi pengadaan SDA yang bersifat renewable dan lebih ramah lingkungan, seperti angina dan listrik dapat diterapkan untuk menjadi sumber bahan bakar alternatif selain BBM. Intensifikasi ini juga akan mengurangi konsumsi atas BBM yang nonrenewable.

Pemerintah juga harus mengedepankan transparansi dalam proses pengalihan subsidi BBM ke sektor-sektor yang lebih produktif. Kebijakan transparansi ini berguna untuk mengurangi kemungkinan munculnya moral hazard dari oknum pemerintah itu sendiri. Dengan begitu akan muncul kepercayaan yang ditanamkan oleh masyarakat kepada pemerintah atas kebijakan ini.

Badan Pusat Statistik. (2014). Perkembangan Jumlah Kendaraan Bermotor Menurut Jenis Tahun 1987-2013. Retrieved May 30, 2015, from http://www.bps.go.id/linkTabelStatis/view/id/1413

Ikhsan, M. (2014). Kenaikan Harga, Instrumen Peredam Konsumsi BBM – Analisis Ekonomi Mikro. Retrieved May 30, 2015, from http://katadata.co.id/opini/2014/11/03/kenaikan-harga-instrumen-peredam-konsumsi-bbm

Wibisono, I. D. (2014). Subsidi BBM dan Ketimpangan di Indonesia. Retrieved April 20, 2015, from http://www.suarakebebasan.org/id/analisis/item/389-subsidi-bbm-dan-ketimpangan-di-indonesia

Yusuf, A. A. (2013). Subsidi BBM dan Distorsi Ekonomi. Bandung: Center for Economics and Development Studies, Universitas Padjadjaran.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s